...Buat Basudara yang mau berbagi...
 
IndeksPortalGalleryPendaftaranLogin

Share
 

 Melirik Prostitusi Amatiran Klas ABG di Ambon

Go down 
PengirimMessage
Evol Saimima
Ranking 3 (3 Bintang)
Ranking 3 (3 Bintang)
Evol Saimima

Male
Jumlah posting : 189
Age : 37
Lokasi (KOTA-PROV) : Ambon-Maluku
Registration date : 27.12.08

Melirik Prostitusi Amatiran Klas ABG di Ambon Empty
PostSubyek: Melirik Prostitusi Amatiran Klas ABG di Ambon   Melirik Prostitusi Amatiran Klas ABG di Ambon Icon_minitimeTue Jun 16, 2009 12:31 pm

Melirik Prostitusi Amatiran Klas ABG di Ambon
Menyulap Mongare Jadi Pelacur



Secara terselubung, komersialisai seks ala Anak Baru Gede (ABG) mencuat di kota ini. Menjajakan tubuh bagi kaum remaja berubah menjadi gaya hidup konsumerisme yang sudah menjangkiti masyarakat. Fakta ini akan mencoret kisah dalam rentetan fenomen seks Amatiran kelas ABG yang sering menjadi tagret dikomersilkan
ke dunia prostitusi di kota Ambon
.



Minggu 6 Juni lalu, Dalam sebuah bagunan berlantai dua di "Gang Tahu" tepatnya di kawasan Mardika Kota Ambon, nampak ramai dengan rutinitas kendaraan yang sibuk melintasi lorong sepanjang 100 meter itu.
Tingginya aktifitas warga di area padat penduduk nyaris membuat kawasan ini tidak pernah sepih.
Ditengah kesibukan warga kota, terlihat SF, SA,NP, dan R, empat gadis remaja asik bergurau ditepi jalan sambil
berteduh dari hujan yang turun di sore itu. Sambil menungu redahnya hujan mereka lalu menuju ke lantai dua
bangunan yang berada di bibir lorong "Tahu" tersebut.

Kegelisahan seolah terpancar dari wajah empat gadis belia ini. Tanpa diduga dengan nada lentang mereka pun
mau berbagi cerita, tentang rutinitasnya sebagai kelompok anak remaja yang sering dikomersilkan meladeni
nafsu bejat para lelaki hidung belang. Bagaimana reaksi anak-anak dibawa usia 17 tahun ini, saat dikomersilakan
ke dunia prostitusi. Berikut penelusurannya

Dalam melakoni pekerjaannya, mereka sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual dengan
banyak orang. Di antara pelanggan yang datang dan pergi itu tentunya juga terdapat berbagai karakter, ada yang
lembut, ada yang kasar, ada yang sehat, ada pula yang berpenyakit menular, yang jujur, dan yang menipu.
Sebut saja SF (15), gadis belia yang bermukim di Mardika ini, magawali karir sebagai pekerja seks sejak usianya
mencapai 14 tahun.

Sebenarnya "SF" tidak pernah berniat terjun ke dunia prostitusi, perjumpaannya dengan "Ayah" sapaan akrab
sang germo , telah menjeratnya dalam dunia prostitusi. " Saat itu beta dikanlkan dengan Ayah " ungkapnya
Layaknya, anak usia belia "SF" pun terhanyut dengan rayuan "Ayah" yang berjanji akan memberikan uang bila
dia bersedia melayani tamu yang ditawarkan, namun lelaki ini belum menyebutkan angka nominal uang yang
akan diberikan kepada "SF". Mendegar tawaran ini, gadis lulusan salah satu sekolah di Ambon ini, kemudian
mencoba mengikuti ajakan "Ayah". " Saat itu Ayah bilang akan kase uang tapi seng tau barapa" tuturnya.

Setelah kesepakatan tercapai, lelaki itu berjanji akan kembali menjemput gadis kelahiran 22 September 1994,
tepat pukul 01.OO dini hari Wit. Sembari menanti kehadiran sang ayah, "SF" bersama dengan teman-temannya
terlihat nongkrong ditepi jalan. Tak lama kemudian Motor Honda jenis Revo berwaran silper, meluncur masuk ke
lorang, SF pun diangkut menuju ke penginapan yang berdekatan dengan Hotel Gren Soya Ambon.

Tanpa harus memilih, sesampainya di penginapan ini, "SF" pun dikawal menuju ke salah satu kamar yang berada
di lantai tiga penginapan ini. Ayah yang berperan ganda sebagai sang perantara telah menyediakan tamu yang
bakal mendapat serpis plus dari gadis yang baru pertama kali terjun di dunia prostitusi itu.
Berdua bersama dalam kamar, Tamu ini pun menyuruh "SF" untuk melepaskan pakaian yang dikenakan dari
tubuh mungilnya.Usai meladeni nafsu bejat dalam pelukan lelaki hidung belang, "SF" pun dihargai dengan uang
senilai Rp 350.000 untuk sekali main. Sebelum keluar, lelaki itu berjanji memberikan uang lebih bila SF
bersedia kembali untuk meladeninya." Beta su lupa waktu itu, tapi yang jelas wajah lelaki itu murip orang cina "
katanya.

Perjumpan dengan "Ayah" telah menjerumuskan "SF" ke dunia prostitusi, Walaupun baru setahun dirinya
menjalani pekerjaan sebagai gadis panggilan. tapi "SF" telah lupa berapa kali dirinya dia dipanggil Ayah untuk
melayani tamu disetiap dipenginapan,"Beta sulupa berapa kali, yang pasti lebih dari 10 kali," Katanya.
Usai melayani tamu SF langsung diantar pulang oleh Ayah ke tempat dimana dia dijempaut. Lelaki itu, sering
memanfaatkan waktu dengan meminta komisi dari SF bila sudah melayani tamu. Namun gadis ini tidak mau
memenuhi seluruh keinginan Ayah," Saat itu antua minta 100 ribu, Tapi beta hanya kasih antua 50 ribu," kata SF

Nasib yang sama juga dialami "SA" (16), gadis yang kini memilih tinggal bersama keluarga di Dusun Aruhu
Ambon ini, mengaku Awal mulanya masuk ke dunia prostitusi kelas amatiran karena dikenali Ayah. Lelaki ini
menjadi jembatan antara "SF" dengan para tamu.

Kronoliginya mirip dengan korban pertma, setelah kesepakatan Ayah lalu menjemput "SA" pada pukul 22.00
Wit malam. Saat itu dia diantar ke Penginapan Reziki, setibanya di pengnipan berkelad III ini "SA"
dikenalkan dengan seorang lelaki yang disebutnya sebgai tampu pertama.

Meski baru pertama kali melayni tamu, tapi gadis kelahiran 15 Januari 1993 sudah berani banting harga
kepada sang lelaki yang menidurinya, setelah tawaran harga disetuji tamu, "SA" pun bersedia bermain ditas
ranjang dengan pria tersebut. Namun patokan hagra itu sangat dinamis, sesekali mereka hanya dibayar antara Rp
100 ribu sampai 250 ribu untuk sekali melayani tamu .," Awalnya tamu itu kasi uang par beta Rp 350.OOO." kata SA

Lelaki yang berperan aktif merubah gaya hidup gadis lulusan saLah satu sekolah agama tingkat SMP di Ambon
ini, sering meminta komisi atau upah tambahan dari SA bila usai mengantarnya pulang. Gadis ini mengaku para
tamu juga sering memberikan uang kepada Ayah, " Namun ayah sering minta uang juga dari beta, mau biking
bagimana beta harus kasi uang par antua,"

Berbeda dengan "SF" dirinya masih menginat berapa kali dipanggil untuk melayani tamu yang telah siap
menunggu di beberapa penginapan yang tersebar Ambon. Gadis ini baru tujuh kai dipanggil oleh "Ayah" untuk
melayani tamu, dari ketujuh lelaki yang pernah ditiduri, 5 diantaranya adalah orang yang sama. sementara sisanya berbeda." Ayah bilang sabantar lai antua mau

datang jemput beta, jam 23.00 Wit, rencananya antua mau bawa beta par ketemu sama tamu di Wisma Gem,"
bebernya.Karakteristik pekerjaan yang dilakukan pekerja seks dikalangan remaja ini membuat prostitusi menjadi
pekerjaan yang berisiko tinggi. Terkadang SA sering ditawari untuk meminum minuman keras oleh para tamu yang
ditiduri, Bahkan para tamu sering menawarkan harga yang nominal, bila SA bersedia untuk melayaninya sampai
pagi," Beta pernah diwari untuk tidur sampe pagi, tapi beta seng mau.

Apabila tidak menggunakan alat kontrasepsi, pekerja seks juga berisiko mengalami kehamilan yang tidak
diinginkan. Meskipun , posisi tawar yang lemah oleh anak-anak remaja ini namun SA selalu membujuk pelanggan
untuk menggunakan proteksi/kondom. hal tersebut dilakukan agar tidak tertular penyakit." Beta takut nanti
tertular penyakit, jadi para tamu sering mengunakan kondom jika dilayani," tuturnya tersenyum.

Gadis ini menyadari profesi sebagai pekerja seks sangat tidak terhormat dimata masyarakat. namun SF
terlajur telah memilih jalan yang salah. Pasca lulus SMP tahun 2008 lalu Gadis remaja kelahiran Kota Masohi ini
tidak lagi melanjutkan studinya di jenjang SMA, "Meski beta suda lulus SMP tapi pergaulan membuat sampe
beta putus sekolah," katnya.

Menyikapi praktek prostitusi yang dilikaoni kelompok anak usia dibawa 17 tahun yang secara diam-diam
diekspolitiasi sebagai pekerja sek komersial ini mengundang reaksi dari beberapa elemen masyarakat di Kota Ini
Anggota Badan Pekerja Mollucas Democrtization Watch (MDW) Yanti Wally, kepada Radar Ambon, menyatakan,
risiko berat lain yang seringkali dihadapi remaja sebagai pekerja seks adalah kekerasan seksual yang dilakukan
oleh pelanggan yang bisa jadi sampai mengancam nyawanya.

Tidak jarang, pelanggan yang datang juga menginginkan bentuk hubungan seks yang tidak wajar, bahkan ada yang
suka merekam aktivitas seksual mereka dengan kamera video. "Ini realitas menjamurnya vidio amatiran
beradegan seks merupakan dampak buruk dari prilaku remaja yang menyimpang," tutur Yanti tegas.
Menurutnya, selain risiko karena karekteristik pekerjaannya sendiri, masih ada risiko lain.

Prostitusi juga bukan dunia yang mudah ditinggalkan. Sekali kita tercebur, perlu usaha ekstra keras untuk berhenti.
Banyak remaja, terutama di kalangan anak sekolah atau kuliah yang terjun ke dunia prostitusi memang tidak berniat
untuk menjadikan prostitusi sebagai pekerjaan utamanya."Kondisi lingkungan terkadang yang membentuk prilaku
para remaja tersebut," kata Yanti.

Lebih jauh Yanti menjelaskan terdapat semacam dualisme dalam menyikapi masalah prostitusi. Di satu pihak,
demand atau permintaan terhadap pekerja seks remaja juga tetap tinggi dan banyak yang bersedia membayar
pekerja seks remaja lebih mahal dibanding yang sudah berumur. Namun, di pihak lain, walaupun saat ini sebagian
kecil masyarakat sudah mulai melihat para pekerja seks sebagai korban dan berusaha untuk menawarkan
program-program pengentasan untuk menolong mereka, " Namun sebagian besar dari masyarakat masih terus
mengutuk dan mengucilkan para pekerja seks, menganggap mereka sampah masyarakat," katanya

Kemudian, mobilitas para pekerja seks itu sendiri sulit terdeteksi sehingga mempersulit pelacakan. Sulitnya
memperoleh data itu membuat masalah ini tidak mendapat perhatian yang cukup, dan berdampak pada tidak
jelasnya perlindungan yang diberikan oleh pemerintah bagi para pekerja seks, terutama pekerja seks di bawah
umur.

Dari risiko pekerjaan, hubungan dengan masyarakat dan minimnya perlindungan yang diberikan, kita tahu bahwa
prostitusi bukanlah lapangan pekerjaan yang mudah dan menyenangkan. Mengenai penghasilan, benarkah
prostitusi menjanjikan kekayaan? Ternyata tidak serta merta demikian. Dari jumlah yang dibayar oleh pelanggan,
tidak semuanya bisa dimiliki oleh pekerja seks, khususnya pekerja yang tergantung pada pihak perantara.Ia
harus membaginya dengan , perantara yang mengatur pertemuan antara pekerja seks dengan pelanggannya, atau
germo. "Satu lagi yang penting bagaimana supaya remaja dapat keluar dari belenggu gaya pergaulan yang salah
adalah dengan dukungan keluarga untuk memantau perkembangan remajanya dalam lingkungan sosial yang serba
sulit saat ini," jelas Yanti.

Dari sisi hukum anak-anak remaja ini seharunya mendapat perhatian, Artinya dari pihak berwajib mestinya
melacak keberadaan lingkungan dimana mereka dimobilisasi para onkum tertentu dalam berhubungan seks
dengan tamu yang ditentukan. Sebab peran perantara sangat berpengaruh dalam merubah gaya hidup anak-anak
ini. "Kita tentu berharap agar kasus-kasus eksploitasi anak yang dipekerjakan didunia prostitusi ini harusya
disikapi oleh pihak-pihak yang berwajib," jelas dia.

Kasus "SF" dan "SA" bersarta beberapa rekannya yang dilacurkan ke dunia seks komersial merupakan satu
temuan yang selama ini tertutup rapat dalam lingkungan sosila. Tidak menutup kemunginan kasus yang sama
terjadi secara diam-diam dikota ini. Anak-anak ini telah tertipu oleh orang yang tidak bertangungjawab,"
Sebagai kaum wanita kita tentunya akan mengangkat tangan, untuk perjuangkan masalah-masalah seperti ini,
Apalagi masalah ini mencuat dikalangan kelompok remaja yang notabena masih berusia dibawa 17 tahun, Ini
bentuk pelanggaran hukum yang harus dilawan oleh seluruh elemen masyarakat di Kota ini," tegas Yanti
.
Kembali Ke Atas Go down
 
Melirik Prostitusi Amatiran Klas ABG di Ambon
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Welcome tO ippmassi ONLINE community :: FORUM DISKUSI :: Kabar Maluku-
Navigasi: