...Buat Basudara yang mau berbagi...
 
IndeksPortalGalleryPendaftaranLogin

Share
 

 AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO"

Go down 
PengirimMessage
Fahmi Sallatalohy
Ranking 6 (0 Bintang)
Ranking 6 (0 Bintang)
Fahmi Sallatalohy

Jumlah posting : 38
Registration date : 11.10.07

AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO" Empty
PostSubyek: AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO"   AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO" Icon_minitimeThu Oct 11, 2007 12:24 pm

AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO"


Tulisan ini sekedar membuka ruang kegelisahan kita [kami] sebagai orang-orang muda yang dilahirkan dalam suatu rentetan sejarah desa yang penuh dengan nuansa kharismatik adat istiadat setempat. Nilai-nilai dan tradisi adat istiadat ini kemudian diderivasi, hingga makna, otentisitasnya berubah warna dari makna “ilouwe basudarau” tiba-tiba ingin dirubah agar konsep ini harus dinamis, bila perlu pragmatis dengan upaya membatasinya pada demensi sosial dan ekonomi an-sich.
Konsep “ilouwe basudarao” menurut pemahaman awam saya sebenarnya sama dengan suatu kontrak sosial yang lebih besar, tetapi karena skopnya terkadang disalah artikan sebatas “perkumpulan bersaudara”, yaitu yang terdiri dari orang-orang sekampung. Konsep ini banyak terdapat di daerah-daerah di Maluku, tetapi kebetulan namanya saja yang tidak sama, sehingga dengan begitu, kita gampang mengklaim bahwa ini adalah satu-satunya yang dimiliki di desa Siri Sori Islam. Orang kaweng, maninggal, semua sedapat mungkin secara alamiah terpola dengan istilah kumpul basudara. Apa makna dibalik perbedaan itu? Apakah kita lebih bersaudara lalu orang lain tidak? Atau kita kurang mampu menghidupkan persaudaraan itu, sementara orang lain, telah maju lantaran mereka lebih hidup bersaudara dan saling tolong menolong? Berdosakah kita jika mengkritisi konsep “ilouwe basudarao”? atau membiarkan konsep ini tetap statis, dan menimbulkan kecemburuan bagi anak cucu kita? Atau yang dianggap basudara, jika pada momen “bakumpul orang kaweng” keluarga mana yang mampu mengumpulkan uang berjuta-juta? lalu bagimana dengan basudara laeng yang kurang mampu, apakah dorang juga bisa dilihat secara adil seperti pandangan orang-orang kaya yang minir terhadap eksistensi mereka?
Konsep “ilouwe basudarao” sekarang ini mungkin perlu disambut dengan gagartang, atau mungkin emosie’e, karena tidak dapat dimaksimalkan untuk melayani kebutuhan masyarakat aman taunno. Lalu apa yang salah selama ini?
Modal sosial yang tidak kuat? atau iko memang i wowa? Karena selama puluhan tahun begitu banyak aliran dana dari kegiatan ini tidak menampakkan hasil yang secara ekonomis dan sosial mengangkat derajat dan harkat amanno, dimanfaatkan oleh segelintir orang yang bersukar ria, lupa diri, dan entah kejelekan apalagi yang muncul dari ketidakpedulian kia selama ini. Amanno yang dolo dibanggakan tiba-tiba hilang sifat “segannya” bagi orang lain, di mana kita juga terlibat menghilangkan “kharismanya”.

Osahoa,Misahoa sebaiknya Cakadidi........?
Beta ingat, sepuluh tahun lalu, ketika masih maniso-maniso dengan Ipmassi, masa kepemimpinan saudara Udin Sanaky dan Tabarit Pelupesssy, tepatnya di awal kepemipinan dorang ada kegiatan yang menghadirkan abang-abang katong sandiri, Mos Salatalohy, Lutfi Sanaky, dari Ikassai Abang Taifur Kaplela, Bapa Haji Salem Polhaupessy, di acara itu, nampak orang tatua juga sering mengkebiri peran orang-orang muda dengan istilah Osahoa, misahoa naaaa, tidak ada maksud yang jelas dibalik keengganan orang tatua menghkawatirkan istilah itu, tetapi sebenarnya mereka sedang menutup logika kita dengan kemajuan, jika orang-orang muda yang progresif tidak dibiarkan berkreasi untuk kemajuan kampong. Sampai acara itu selesai, logika osahoa, misahoa, ini terus menjadi perdebatan yang berujung pada sikap satu kurang hormat kepada yang lain.
Tetapi apa benar osahoa, misahoa, melanggar tatakrama, etika sopan santun, ataukah yang dimaksudkan dengan osahoa, misahoa, adalah agar jangan sampe saling mendahului? Mendahului dalam hal apa? Perubahan? Pertentangan? Atau memelihara sikap masa bodoh, agar kelompok lain harus takluk di depan kelompok status quo? [waktu itu memang masih terdapat jurang yang lebar antara orang kaya siri sori “OKS” dan orang-orang miskin, yang sangat sulit diposisikan sejajar]. Sekarang, apapun argumentasi tentang posisi, kekayaan, tentunya tidak dapat menyelamatkan kita dari bahaya eksternal amanno, yaitu keterbelakangan, atau mungkin bisa jadi meningkat ke kemunduran dan kebodohan. Kalau mau sangsi, memang tidak harus sekarang, tetapi lambat laun, hukum alam ini akan menimpah kita.
Oleh karena itu, osahoa, misahoa, jangan lagi disebut-sebut, biarlah semua orang menjadi cakadidi untuk perubahan dan kemajuan amanno. Pilihan kita sangat sederhana, osahoa, misahoa, untuk masalah gengsi, atau mungkin labe bae cakadidi supaya maju tarus.

Sapa Pung Tanggung Jawab?
Kembali ke konsep ilouwe basudarao tadi, apakah konsep ini tidak perlu dirubah? Menurut hemat beta, konsep apapun yang tidak mendatangkan manfaat bagi amanno, minimal pelu dipertimbangkan daya dorongnya (akseptabilitasnya). Jangankan konsep ilouwe basudarao, apa saja yang tidak berasas dan bermanfaat perlu di rubah, tentunya harus dikembalikan kepada orang tatua, basudarao samua, agar dipertimbangkan dengan dingin, jangan saling menyalahkan atau memvonis ini, itu, karena seng ada tujuan laeng selain katong biking ini par samunya.

Akseptabilitas Untuk Pendidikan
Satu hal yang sangat urgen yang katong su lupa samua adalah presentase pendidikan orang SSI selama lima tahun terakhir ini cukup memprihatinkan. Bahkan beta yang su lama di jogja hampir lima tahun seng pernah tau ada basudarao yang lanjut studi S2,S3 di Jogja, (di Malang S2 yang baru ada berapa orang saja seng cukup 10). Selera terhadap pendidikan lanjutan sebenarnya terkait dengan persoalan klasik yaitu “ D A N A”. Atau pertimbangan lain tentang keluarga bagi yang su kawe, orang-orang dari amanno harus memiliki jiwa bertarung, niat yang tulus, supaya katong pung pendidikan jangan hanya produk S1 saja, bila perlu ada yang sampe ke professor.
Berdasarkan pengalaman, katong yang su merantau, tentunya punya kiat-kiat khusus agar bagimana basudarao bisa miikuti majejak, ini tidak bisa di tempuh dengan tangan kosong atau modal dengkul, harus ada upaya kerja sama, antara Ikkassi, Aiyalo, supaya si perhatikan anaisei nia, wau anahiio siiskola, dengan pola kerja sama secara “emosional” dengan instansi-instansi pendidikan yang ada di Maluku, minimal, orang-orang yang belum kerja yang bekemauan untuk sekolah diusahakan ada rekomendasi, biar ada beasiswa./
Ok sampe dolo, jang talalu panjang lai, nanti dapa tau kartu.

Akseptabilitas Ekonomi,Sosial beta akan lanjutkan di momen yang lain

Kembali Ke Atas Go down
Salaiku
Ranking 6 (0 Bintang)
Ranking 6 (0 Bintang)
Salaiku

Jumlah posting : 25
Registration date : 28.06.07

AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO" Empty
PostSubyek: Setuju..uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu   AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO" Icon_minitimeThu Oct 25, 2007 11:00 am

Beta setuju momo, katong ana muda mau berkembang bagimana kalu kata Sahoa,misahoa slalu jadi momok ekspresi ana muda.
Semoga Momo Fahmi bisa jadi cermin par katong ana muda sissodido yang masih haus akan ilmu pengetahuan. Salam par beta pung Tante
jua.
Kembali Ke Atas Go down
 
AKSEPTABILITAS MAKNA "ILOUWE BASUDARAO"
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Welcome tO ippmassi ONLINE community :: FORUM DISKUSI :: Tabaosss-
Navigasi: